LaPSI, Lembaga Pengembangan Sumberdaya Insani

Burning Your Creativities

Jember, Lapindo, dan Jurnalistik go to School: Sebuah Catatan Perjalanan

dengan satu komentar

Saya mulai mempersiapkan baju dan kelengkapan lainnya untuk ke Jember. Tim fasilitator Lembaga Pengembangan Sumberdaya Insani (LaPSI) berkumpul di base camp, Notoprajan – Yogyakarta (Jl. H. Agus Salim No. 64 A). Di base camp ada David, Andikse, Neng (Amel) dan Fida Afif.

Bagi saya pribadi ini sebuah perjalanan penting. Inilah perjalanan perdana saay ke Jember. Sebab sebelumnya saya belum pernah berkunjung ke ujung timur Jawa Timur ini. Itu alasan paling kuat yang mendorong saya untuk berangkat malam itu. Walau pun tujuan utama sebenarnya adalah memfasilitasi training jurnalistik go to schoolnya LaPSI.

Kami berangkat ke Jember lewat Surabaya dengan menumpan bus ekonomi ”sumber kecana”. Di terminal Bungur Asih, Surabaya kami istirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanan dengan bus ekonomi ke Jember. Sampai di Jember waktu sudah menunjukkan pukul 10.12 Wib. Setelah melalui perjalanan panjang kurang lebih 14 jam dari Yogya, kami istirahat sejenak di guest house Unmuh Jember. Beberapa menit kemudian pelatihan pun dimulai yang diawali dengan orientasi dan perkenalan diantara peserta, tim fasilitator, dan penyelenggara.

Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh LaPSI atas dukungan Direktur SMP, Kementrian Pendidikan Nasional. Kegiatan yang sama, juga sudah diselenggarakan diberbagai kota di pulau Jawa. Memang, LaPSI concern pada upaya memperkuat pelajar Indonesia dalam literasi dan kesadaran kritisnya. Sebagai orang yang turut menyusun konsep dan platfrom lembaga tersebut saya menaruh perhatian pada bagaimana LaPSI mengambil peran membangun kesadaran kritis pelajar dan aktivitas kreatif lainnya.

Pelatihan ini diikuti 25 orang dari berbagai sekolah se-Kabupaten Jember, mereka pada umumnya berasal dari Osis, Ekstra Kurikuler (Eskul) jurnalistik, dan pengelola majalah dinding sekolah. Kendatipun masih sangat belia, mereka sudah memiliki pengalaman mengelola jurnalistik. Yang paling sederhan mereka mengelola majalah dinding sedangkan yang paling maju, yaitu mengelola majalah dari sebuah sekolah negeri.

Selama tiga hari dua malam mereka sangat antusias dalam belajar jurnalistik. Saya sangat bahagia melihat keseriusan yang ditunjukkan oleh anak-anak itu. Dalam kurung waktu tersebut, mereka kami latih dengan penekanan pada bagaimana melakukan peliputan, menemui narasumber, membuat berita dan mempublikasikannya. Tim LaPSI juga mendatangkan salah satu pembina majalah di sebuah SMP di Yogyakarta yang selama ini di dampingi oleh LaPSI.

Saya hanya bertahan dua hari di Jember dan pulang. Saya meninggalkan Jember kurang lebih pukul 23.00 Wib. Sebuah bus ekonomi saya tumpangi malam itu menuju Surabaya. Kira-kira pukul 02.15 dini hari, saya terbangun. Bus yang saya tumpangi bergerak pelan. Saya lalu menoleh ke kiri. Dari bus tampak kelihatan genangan air disisi kiri kanan. Saya berusaha mencari-cari kampung apakah gerangan ini. Semakin bus bergerak saya semakin yakin bahwa ini Porong, Sidoarjo. Biar tidak penasaran, saya tanya ke pak Supir.

“Pak, ini di daerah mana”? tanyaku.

“Ini Porong mas, lumput itu lho” jawab pak Supir.

Suasana di jalanan riuh rendah. Mereka yang naik motor terpaksa mendorong motornya karena tidak bisa lagi dinyalakan karena genangan air di jalanan yang tingginya sampai lutut orang dewasa. Akibatnya busi motor terendam dan basah. Inilah kondisi jalan raya Porong kalau sedang hujan. Dan ini pulah lah satu-satunya akses jalan menuju Jember, Banyuwangi, dan kota-kota di bagian Selatan Surabaya.

Sementara saya perhatikan dari aspal-aspal di jalan nampak cairan keluar dari retakan-retakan aspal itu. Cairan itu mengandung minyak yang sangat berbahaya kalau terkena percikan api. Ah, sebuah perjalanan mengesankan.

Porong merupakan sebuah cerita tentang kekalahan negara berhadapan dengan kekuatan korporasi. Barangkali Mark Achbar, sutradara film “The Corporation” benar bahwa korporasi bila disamakan dengan manusia, ia sedang mengalami apa yang dalam psikologi disebut dengan psikopat. Psikopat atau anti sosial itu menggambarkan sifat yang antara lain egois, merasa tidak bersalah, dan menabrak apa pun (norma dan sistem sosial) demi tercapai kepentingannya yaitu, laba yang sebesar-besarnya.

Peristiwa Porong, Teluk Buyat, dan berbagai wilayah di tanah air serta di belahan bumi yang lain seperti di Bougainvelle, Papua Nugini menghentak kesadaran kita semua baik sebagai individu maupun negara agar lebih hati-hati dan mengedepankan kepentingan nasional diatas keuntungan segelintir orang.

Bangsa ini sudah cukup letih – meminjam terminologinya Syafi’i Ma’arif – dengan problem-problem internalnya, saatnya kaum muda minoritas untuk bangkit dan menyuarakan suara kepedihan, mengusung penderitaan dan kelaparan sebagai peluru bagi tegaknya kedaulatan individu dan negara ini.

Saya berharap kelak dikemudian hari anak-anak SMP yang ikut Diklat Jurnalistiknya LaPSI tumbuh menjadi manusia yang penuh kesadaran. Menjadi jurnalis yang senantiasa tegak kepalanya berhadapan dengan ragam godaan termasuk dengan korporasi bisnis pers. Saya akan bangga, bila kelak disuatu waktu, kalian saya dengar dipecat dari surat kabar atau TV tempat kerja anda karena kerena kegigihan anda mempertahankan prinsip-prinsip jurnalistik walau harus kehilangan periuk nasimu. Semogalah anda semua tumbuh dengan penuh kesadaran diri. Wallahu A’lam.

Ditulis oleh lapsippipm

Desember 14, 2010 pada 5:19 pm

Satu Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. super, aku juga masih ingat betul perjalanan LaPSI ke Jember. Petualangan yang sangat super dan juga berkesan dalam hidup saya.
    Saya rindu untuk datang ke Jember lagi, walaupun TOBAT perjalanan ke tempat itu. GO LaPSI…..!

    fida 'afif

    April 10, 2011 pada 11:55 am


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.