Disalahkan: Takdir Sejarah Muhammadiyah
Oleh Agus Purwanto
Sejak kemarin saya diminta seorang sahabat untuk membaca tulisan Prof Thomas Jamaluddin (Muhammadiyah terbelenggu wujudul hilal metode lama yang mematikan tajdid hisab) tentang pandangan beliau atas hisab Muhammadiyah. Karena saya di kampung agak jauh dari akses internet maka saya nunggu balik Surabaya tetapi di KA saya pun juga digempur atas hisab Muhammadiyah. Saya coba beri pandangan tentang hisab dan kriteria yang digunakan Muhammadiyah(tentu ini versi saya pribadi). Beberapa postingan terkait ini juga bisa dibaca di (http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-392-detail-penjelasan-majelis-tarjih-dan-tajdid-pp-muhammadiyah-soal-penetapan-idul-fitri-besok.html) dan juga di (http://amin-albarqy.blogspot.com/2007/07/rasulullah-saw-mengajarkan-ilmu-hisab.html)
1. Hisab Muhammadiyah, NU, dan Persis sekarang telah relatif sama yakni sistem ephemeris makanya hasilnya juga sama Hilal dengan markaz tanjung kodok Lamongan Jatim akan memberi angka sama meski dihitung oleh orang Banda Aceh.
2. Perbedaan ada di kriteria, imkanur rukyat dan wujudul hilal
imkanurrukyat adalah jalan tengah hisab dan rukyat dalam arti visibilitas atau batas minimum hilal dapat dilihat wujudul hilal dalam teori ilmiah sebenarnya merupakan keadaan khusus dari imkanurrukyat yakni NOL derajat. Nah, wujudul hilal bukan lagi hilal dapat dilihat tetapi hilal telah eksis meski tidak dapat dilihat
kriteria imkanurrukyat sendiri cukup variatif dan dinamis
dalam arti banyak angka (untuk tingkat internasional) dan terus berubah
Karena belum pastinya angka visibilitas ini (yang sekarang 2 derajat) maka Muhammadiyah berfikir ulang tentang angka ini termasuk esensi hisab.
Dengan hisab orang dapat melakukan lompatan
1. Tidak terpaku dengan kriteria rukyat, karena visibilitas adalah keniscayaan rukyat
2. Eksistensi hilal dapat diidentifikasi/diketahui meski tidak dapat dilihat
3. Kalender dapat dibuat (dengan rukyat kalender hijriyah tidak dapat dilihat)
4. Dengan berbagai kriterianya maka kapan awal bulan dapat ditentukan jauh sebelumnya jadi tidak fair dan tidak adil juga kalau di sidang itsbat (2( Agutsus 2011) ada yang meminta agar awal bulan tidak segera diumumkan
Jadi jika disebutkan kriteria hisab Muhammadiyah usang, agak berlebihan dan emosional
kalau wujudul hilal tidak dapat dilihat (yang kurang dari 2) memang ya/benar, tetapi sekali lagi Muhammadiyah tidak merasa perlu (sepengetahuan saya sebagai salah seorang tim hisab Muhammadiyah) untuk dapat melihat hilal tetapi memastikan hilal telah wujud/eksis. Di sinilah pokok perbedaannya.
Masalah aktual idhul fitri 1432 Muhammadiyah jatuh 30 Agustus 2011 dan disalahkan sekelompok orang, memang seolah seperti takdir sejarah Muhammadiyah lahir untuk disalahkan. Perhatikan saja! dahulu, di awal abad 20 ketika Muhammadiyah mengadopsi sistem pendidikan umum Muhammadiyah divonis kafir karena meniru caraa Belanda. Dulu juga, Muhammadiyah dituduh mendirikan agama baru ketika kyai Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat. sekarang, Muhammadiyah diklaim “karepe dewe” karena tidak sama dengan mainstream. Sekali lagi Umat harus dididik, segala sesuatu harus dijelaskan apa adanya secara jujur
Sidang itsbat sendiri ada masalah. Dengan hisab kita tahu bahwa hilal 29 Agustus 2011 antara 1 dan 2 derajat dengan kriteria imkanur rukyat 2 derajat maka jika ada pengakuan berhasil merukyat maka akan ditolak seperti tadi (Cakung, Jepara). Nah, jika telah jelas ditolak maka mestinya kita tidak perlu melakukan rukyat karena sia-sia untuk apa sekian ratus atau bahkan sekian ribu orang berbondongg merukyat tetapi kemudian hasilnya ditolak jika mengaku berhasil merukyat mereka juga mengeluarkan biaya. Ini juga perlu dijekaskan kepada umat.
Karena sudah tahu, kesaksian ditolak, yang berarti 1 syawwal 1432 adalah 31 Agustus 2011. Maka mestinya juga tidak perlu sidang itsbat, informasikan jauh sebelumnya. Ada berapa puluh orang bersidang, tentu ini memerlukan biaya kemubaziran juga harus dihindari di dalam Islam. Sidang itsbat juga bukan sidang politik! Karena itu semua harus dijelaskan secara jernih, jujur dan apa adanya
Fastabiqul khairat
Salam
Dr. Agus Purwanto, Fisikawan ITS dan Kepala Sekolah SMA Sekolah Alam Insan Mulia Surabaya. Anggota Tim Hisab Muhammadiyah.
LaFTiFA ITS
LaFTiFA ITS
http://purwanto-laftifa.blogspot.com
http://ayatayatsemesta.wordpress.com

Pak, bila wujudul hilal bukan lagi hilal dapat dilihat tetapi hilal telah eksis meski tidak dapat dilihat, maka berdasarkan logika matematika hilal pada posisi pada 0.0000000000001 derajat hilal juga telah eksis. Tapi kalau di engineering, maka orang lebih menganggapnya ini adalah 0 sajalah….
Bagaimana kalau kita sepakati saja kalau pada posisi 0.0001 derajat atau 0.01 derajat hilal bisa dikatakan sudah eksis atau barangkali 0.1 derajat…..
asnurul
Agustus 30, 2011 pada 1:58 am
mkasih ats pjelasannya. kami bbrp warga muh. mau mnyanggah prof.thomas tp tdk punya pngetahuan ttg hisab dan rukyat. Alhamdulillah bpk sdh memberi penjelasan
hilma
Agustus 30, 2011 pada 4:41 am