LaPSI, Lembaga Pengembangan Sumberdaya Insani

Burning Your Creativities

Arsip untuk kategori ‘Gerakan Sastra Pelajar!

Gerakan sastra pelajar!

dengan satu komentar

Alangkah inginnya kita melihat seluruh anak bangsa ini menjadi generasi yang ketagihan membaca. Bukan sekedar membaca alfabet demi alfabet saja tapi sungguh-sungguh membaca buku. Membaca alfabet itu bagaikan berkecimpung di kolam yang kecil ukurannya, sedangkan membaca buku ibarat berenang di lautan ilmu yang sangat luas. “Mari kita latih anak bangsa kita berenang di samudra ilmu hingga terengah-engah mencapai garis cakrawala,” ajak Taufik Ismail suatu secara tertulis ketika menjawab pertanyaan untuk sebuah interview yang saya kirim, juga secara tertulis Pujangga kondang ini merindukan anak-anak bangsa yang pandai menulis sehingga pandai memindahkan pikiran di dalam kepala menjadi bentuk karangan yang enak dibaca. Karena itu, ia punya tekad untuk melatih anak-anak Indonesia terbang ke angkasa pemikiran dan perenungan melalui kemampuan dan kecintaan mengarang. Begitulah kerinduan seorang sastrawan akan komunitas yang sastrawi, hingga gerak nafas dan suaranya yang identik dengan dakwah sastra nan menggelora itu kelak diteruskan oleh berjuta-juta individu penerus. Suara hati Taufiq Ismail yang selalu berubah doa di dalam mimpi-mimpinya, memang senantiasa menggelorakan hasrat dan harapan agar Indonesia menjadi sebuah taman bacaan raksasa. Ketika duduk di stasiun bis, di gerbong kereta api, di ruang tunggu dokter, di balai desa, orang-orang khusyu’ membaca buku. Itulah kerinduan kita semua. Kerinduan akan generasi yang punya karakter bak mesin pelalap buku, buku bacaan tentang apa saja. “Orang bisa menulis dan mengarang diawali dari sering membaca, buku apa saja,”katanya. Di mata Taufik Ismail, apresiasi masyarakat Indonesia terhadap sastra masih “rabun dan pincang”. Telah terjadi kemerosotan minat masyarakat membaca karya sastra. Juga, muncul fenomena surutnya minat calon mahasiswa untuk berkecambah dalam studi sastra Indonesia di tingkat perguruan tinggi. Tak ada acara tetap sastrawan yang diundang ke kampus untuk membicarakan karyanya. Juga tak banyak program rutin sastrawan datang ke sekolah untuk memperkenalkan sastra. Terbatasnya minat televisi menggunakan karya sastra sebagai bahan pembuatan sinetronnya pun teramat sangat minim. Dan, yang paling parah: merosotnya wajib baca buku sastra, bimbingan mengarang dan pengajaran sastra di sekolah. Benarkah telah terjadi pendangkalan makna kesusastraan di kalangan pelajar kita? Jika, ya, bagaimana cara mengatasinya? Yang jelas, Taufik Ismail merindukan sebuah atmosfer interaksi yang intensif antara dunia pendidikan dan dunia sastra. Ia pun memulai untuk menjawab kerinduan itu dengan enam langkah kongkret. Pertama, melalui sisipan “Kakilangit” dalam Majalah Bulanan “Horison”. Kedua, melalui SBSB (Sastrawan Bicara, Siswa Bertanya); dalam konteks ini para sastrawan datang ke sekolah-sekolah untuk berbicara tentang sastra. Ketiga, melalui pelatihan MMAS (Membaca, Menulis dan Apresiasi Sastra); dalam konteks ini digelar pelatihan bagi para guru di Indonesia di 12 kota di Indonesia. Keempat, mendatangkan sastrawan ke sembilan kampus di Indonesia. Kelima, melalui lomba mengarang bagi guru-guru. Dan keenam, yang terakhir, mendirikan sanggar-sanggar sastra untuk siswa di 12 kota di Indonesia. Apa yang ditempuh Taufik Ismail itu merupakan bagian dari perjuangan untuk menambah gairah bersastra di kalangan pelajar, yang kini sudah mulai terlihat. Memangm para sastrawan senior Indonesia, sudah saatnya menambah jam terbang menggauli para pelajar di negeri ini. Dalam forum ini, para sastrawan bisa membacakan karyanya di depan siswa/siswi dan membuka sesi tanya jawab. Di mata Taufik, sebenarnya banyak pelajar di negeri ini yang memendam bakat dan potensi kesusasteraan. Malangnya, selama ini mereka tidak tahu dan merasa tidak ada wadah untuk mengembangkan bakat mereka itu. Buktinya, ketiga antologi sastra pelajar berjudul Kakilangit Sastra Pelajar diluncurkan, begitu banyak karya sastera pelajar yang layak muat. Hasilnya, 174 puisi, 10 cerpen dan dua esai karya siswa dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Tenggara, NTT sampai ke Merauke di Papua diterbitkan. Tiras Kakilangit Sastra Pelajar itu pun pernah mencapai 5.000 eksemplar. Bahkan, telah dikirimkan ke berbagai perpustakaan sekolah; yang jumlahnya sekitar 4.500 SMU dan SMK. [diambil dari beberapa sumber]

Ditulis oleh lapsippipm

Mei 20, 2009 pada 8:34 am

Ditulis dalam Gerakan Sastra Pelajar!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.