Arsip untuk kategori ‘sekolah fasilitator’
seni kefasilitatoran (5)
Lima Indikator Suskes dalam Pelatihan
David Efendi, direktur LaPSI
Kondisi seperti apa yang diperlukan jika kita ingin mengetahui bahwa sesi dalam pelatihan itu berjalan sukses dan menggugah semangat serta antusiasme peserta pelatihan. Penulis sepakat bahwa keberhasilan pelatihan itu harus dilihat dalam perkembangan proses pembelajaran, partisipasi aktif peserta, serta ketrlibatan semua pengelola dan warga pelatihan. Kita tidak boleh menunggu semua sesi selesai baru mencoba berhitung apakah berhasil atau tidak. Ini tidak pas sebab setiap sesi peserta mempunyai kecenderungan masing-masing sehingga untuk memperoleh evaluasi yang akurat tentu harus diikuti detail tahapan demi tahapan dalam pelatihan. Makanya diperlukan tim observer yang akan menganalisa kondisi dalam pelatihan.
Setidaknya ada lima hal yang bisa menjadi idnikator keberhasilan dalam sesi-sesi pelatihan (training). Pertama, Banyaknya pertanyaan dari peserta selama sesi atau setelah sesi menunjukkan Anda berhasil menumbuhkan minat peserta. Fasilitator dikatakan berhasil jika memunculkan pertanyaan yang kritis dari peserta yang mempertanyakan pendalaman atas apa yang Anda jelaskan, pertanyaan aplikasi pada suatu kasus tertentu, pertanyaan mengenai penerapan di luar konteks yang diajarkan. Kemampuan bertanya merupakan kreatifitas yang perlu dihargai sehingga jangan takut kalau fasilitator dibom dengan cercaan pertanyaan sebab hanya dalam konteks pelatihan saja yang perlu dijawab dan jangan segan-segan bilang kurang tahu, belum membaca buku itu, atau minta maaf kepada pseserta dari pada nekad menjawab dan tidak mengarah pada jawaban yang tepat.
Kedua, Banyaknya pertanyaan yang “mempertanyakan” pengetahuan Anda atau meragukan apa yang Anda sampaikan, hal itu menunjukkan belum terjadinya proses “penerimaan” dari peserta kepada Anda atau modul. Bisa jadi fasilitator terlalu panjang mengomentari suatu hal dan terkesan berputar-putar. Hal ini lebih para kalau dilakukan ketiak jam sudah waktunya istirahat dan makan. Ketiga, Minat dan semangat yang ditunjukkan peserta selama sesi berlangsung mengindikasikan keberhasilan Anda membangun suasana partisipatif dan membangkitkan daya tarik peserta akan suatu materi pelatihan.
Keempat, Di luar sesi pelatihan, banyaknya peserta yang menggunakan jargon-jargon, komentar dan sebagainya mengindikasikan adanya internalisasi suatu konsep. Tapi ingat seringkali peserta mengungkapkan ketidakpuasan dalam lembaran kertas-kertas, catatan, atau melalui yel-yel yang bernada mengejek fasilitator. Jangan tersinggung dan tetaplah mengevaluasi diri dan tim. Kelima, ketepatan waktu kehadiran peserta menunjukkan bahwa peserta sudah meletakkan prioritas yang tinggi pada sesi dan bisa membayangkan manfaatnya.
seni kefasilitatoran (4)
Menghadapai “Situasi Genting”
Dalam Pelatihan
David effendi)*
Direktur Lembaga Pengembangan Sumber Daya Insani (LaPSI) Yogyakarta
Situasi genting artinya ada beberapa persoalan yang perlu diselesaikan sebelum memulai atau melanjutkan sebuah proses pembelajaran dalam pelatihan. Sebagai fasilitator yang baik hendaknya tidak memberikan stigma negative kepada peserta misalnya “peserta sulit”, “peserta tidak bias diajak kerja sama”, “peserta bodoh”, “peserta tidak paham” dan sebagainya karena stigma ini secara tidak kita sadari akan melemaahkan kamampuan dan kejernihan pikiran fasilitator dan ujung-ujungnya akan menambah deretan masalah dalam pelatihan. Bagaimana mengidentifikasi situasi genting dalam pelatihan.
Setidaknya ada beberapa level situasi yang membuat kondisi genting dalam artian proses pembelajaran akan terseok-seok. Pertama, faktor peserta. Seringkali peserta tidak mempunyai basis pengetahuan, ekpektasi, dan orientasi yang sama walau sama-sama berminat mengikuti pelatihan. Satu hal yang perlu dihindari adalah memberikan label kepada peserta sebagai sumber masalah. Hal ini akan mempengaruhi kondisi pikiran fasilitator untuk mempercayai bahwa memang sulit menghadapinya, dan tindakannya kemudian cenderung akan mengikuti kepercayaan itu. Kenyataan dalam kehidupan, tidak ada orang yang benar-benar sulit bagi setiap orang. Selalu saja ada orang yang sanggup “menangani” seorang yang dianggap sulit dalam pandangan orang lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kita dapat “mengendalikan” sepanjang mengetahui caranya. Terkadanag peserta yang terpaksa datang atau datang tiba-tiba dalam jumlah yang diluar target maksimal, biasanya disebabkan pemberian tugas yang mendadak, peserta memiliki beban tugas saat meninggalkan pekerjaan, sehingga peserta tidak tahu apa manfaat datang ke pelatihan. Jika demikian fasilitator harus tegas dan menolak peserta yang baru datang sehingga tidak mengacaukan pelatihan karena sudah diberitahukan sejak awal bahwa peserta harus konfirmasi paling lambat tanggal sekian.
Dalam terminologi NLP ada suatu keyakinan yang perlu diinternalisasi oleh seorang fasilitator: “Tidak ada yang namanya peserta sulit, yang diperlukan adalah seorang fasilitator yang lebih fleksibel”. Jadi, fleksibilitas sikap dan perilaku yang tepat dari fasilitator akan menentukan apakah dia bisa mengarahkan seorang peserta yang dianggap berperilaku sulit atau tidak. Seorang peserta menjadi berperilaku yang menyulitkan fasilitator umumnya terpicu oleh suatu kondisi yang mendahului.
Kedua, kurangnya persiapan pelatihan. Pelatihan yang tidak direncanakan dan dikelola dengan baik, seperti kurangnya fasilitas dasar untuk akomodasi, manajemen waktu yang buruk,ruangan yang tidak memadai dan sebagainya. Paling seringh ditemuai adalah alur yang tidak konsisten atau alur pelatihan yang kurang bagus sehingga sulit direalisasikan atau tim fasilitator yang tidak mampu berbagi peran dalam pelatihan sehingga terkesan kacau balau yang ini menjadikan peserta kehilangan gairah dalam pelatihan dan terasa malas-malasan mengikuti pelatihan. Hal ini perlu diatasi dalam waktu yang singkat dan cerdas memutuskan kembali alur dan membagi tugas sementara peserta diberikan aktivitas yang menyenangkan yang tidak bertentangan dengan tujuan pelatihan.
Kedua, faktor alam. Misalnya karena banjir, hujan deras atau gempa bumi sehingga kegiatan tidak bisa dilaksanakan secara leluasa dan bahkan dalam situasi yang tertekan secara psikologis. Banjir juga bisa menyebabkan alur pelatihan harus diubah sebab beberapa materi seharusnya dilakukan dengan model outbound akan tetapi karena hujan deras hal ini sulit diterapkan. Fasilitator harus dengan sigap bisa merubah permainan menjadi indoor dengan kreatif misalnya dengan permainan kelompok yang dianmis atau kompetesi dalam small group yang terpenting bagaimana materi tetap bisa diterima oleh partisipan (peserta). Listrik mati atau tidak kuat untuk menyetel LCD dengan komputer sering kali juga dialami didaerah-daerah yang tidak stabil sehingga fasilitator harus siap dengan berbagai kemungkinan. Kertas plano lebar akan banyak membantu dengan spidol atau kertas-kertas lainnya. Keahlian memanfaatkan kertas sebagai media pelatihan ini mutlak diperlukan bagi semua fasilitator.
Situasi lain yang menjadikan terguncangnya alur pelatihan misalnya terlalu lama daalam debat kusir, ngeyelisme yang berlebihan sebagian peserta akan menjadikan peserta lainnya merasa borring dan hasrat ingin meninggalkan forum menguat dengan berbagai alasan misalnya ke kamar mandi, sakir perut, dan sebagainya. Makanya seorang fasilitator diharapkan punya strategi memanfaatkan waktu serta ketegasan time keeper dalam pelatihan sehingga tidak terjadi dominasi seorang peserta terhadap peserta lain. Diskusi yang tekhnis harus fokus dan cepat. Ini adalah skill berfikir alternatif, berfikir taktis dan peserta tidak merasa didekte atau ditekan.
Yogyakarta, 27 Juli 2009
bergabunglah dgn Sekolah Fasilitator
SEKOLAH FASILITATOR “INSPIRATOR” 2009
“Burning Your Creativity”
Lembaga Pengembangan Sumber Daya Insani (LaPSI) merupakan salah satu lembaga yang bergerak pada bidang pelatihan dan kefasilitatoran dengan salah satu programnya mengadakan pelatihan dan pendampingan komunitas. Alasan mengapa terminology fasilitator lebih diinginkan setelah munculnya ide untuk bebas berekspresi di Indonesia termasuk dalam hal dakwah agama di IPM adalah adanya konflik yang terjadi dan membutuhkan seorang fasilitator untuk membantu memecahkan masalah yang ada tanpa kekerasan.
Oleh karena itu dibutuhkan fasilitator yang handal dan teruji kompetensinya yang mampu mengelaborasikan antara idealisme dengan realitas, antara egoisme dan solidaritas, akan tetapi wahana untuk mewujudkan hal itu masih sangat kurang. Sekolah-sekolah telah kehilangan maknanya, yang hanya berorientasi pada kerja dan terjebak oleh kurikulum-kurikulum nasional. Institusi pendidikan pun semakin mahal dan hanya menghasilkan budak, tidak menciptakan pemimpin yang berkarakter kuat, berwawasan luas, mandiri, dan tidak mutungan. Sehingga dibutuhkan sekolah alternative untuk fasilitator sebagai wahana pengembangan karakter yaitu sekolah sang juara dan sekolah calon trainer handal.
B. Tema Kegiatan
“Burning Your Creativity”
C. Target
- Peserta mampu menjadi fasilitator yang handal bagi sesama
- Terbentuknya rasa percaya diri dan komitmen sosial
- Lahirnya fasilitator dan trainer yang siap diterjunkan ke masyarakat
- Mengelola dan mengembangkan beragam komunitas kreatif
- Dapat mengaktualisasikan apa yang telah didapat dari kegiatan ini
D. Nama Kegiatan
Rangkaian kegiatan ini bertajuk Sekolah Fasilitator ”Inspirator” Lembaga Pengembangan Sumber Daya Insani 2009
E. Waktu dan Tempat Kegiatan
Rangkaian kegiatan ini akan dilaksanakan secara berkala selama 4 minggu setiap hari Sabtu mulai tanggal 06 – 27 Juni 2009 di Rumah Panggung Nitiprayan Yogyakarta.
F. Materi
1. Dasar-dasar kefasilitatoran
a. Peran fasilitator
b. Teknik-teknik kefasilitatoran
2. Profesionalisme dan etika fasilitasi
a. Sikap yang harus dimiliki fasilitator
b. Tata bahasa yang digunakan dalam memfasilitasi
3. Seni memfasilitasi
a. Bagaimana mengakomodir ide peserta
b. Bagaimana menggunakan media alternatif untuk diskusi
c. Bagaimana setting tempat yang menarik
4. Micro-Learning
G. Peserta
Adapun syarat calon peserta adalah sebagai berikut :
- Berkeinginan untuk maju
- Minat belajar tinggi
- Aktivis komunitas LaPSI, Radja FM, Kuntum, dan Gudeg
- Bersedia menjadi peserta aktif selama training
term of reference
SEKOLAH FASILITATOR
“INSPIRATOR”
Lembaga Pemberdayaan Insani (LaPSI)
Tahun 2009
_________________________
LATAR BELAKANG
Sekolah kehilangan makna, sekolah hanya berorientasi kerja, sekolah mahal, dan menjadikan budak bukan menjadi pemimpin yang berkarakter kuat, berwawasan luas, mandiri, dan tidak mutungan
Sejenis sekolah alternative, untuk fasilitator, sekolah sang juara, dan sekolah calon trainer handal. Belum banyak yang menguasai seni memfasilitasi
SYARAT PESERTA
Orang yang mau maju
Minat belajar sangat tinggi
Aktivis komunitas/club/GENG
Bersedia menjadi peserta aktif selama training
Peserta maksimal 15 orang (selektif)
Mengisi surat perjanjian/komitmen
TARGET
Peserta mampu menjadi fasilitator yang handal bagi sesama
Terbentuknya rasa percaya diri dan komitmen sosial
Lahirnya fasilitator dan trainer yang siap diterjunkan ke masyarakat
Mengelola dan mengembangkan beragam komunitas kreatif
Tanamkan bahwa: “saya adalah teladan terbaik bagi diri saya sendiri!!”
MATERI PEMBELAJARAN
Orientasi
Sejarah kefasilitatoran
Peran Fasilitator
Dasar-dasar kefasilitatoran
Ice breaker dan macam-macam Games
Seni Memfasilitasi
Bagaimana menjadi inspirasi
Praktek fasilitasi
Evaluasi dan terjun
PANITIA PELAKSANA/FASILITATOR
Penangung jawab : PP IPM
Ketua tim : David Efendi,SIP
Anggota-anggota:
1. Ria Eka L
2. Andik Setiawan
3. Nur Arina H
4. Cahya
5. Amel
6. Amin Hasanah
7. Fida Afif
WAKTU DAN TEMPAT
Dilaksanakan setiap sabtu,jam 15.00-17.30 WIB, di Gedung Muhammadiyah, Jalan KHA Dahlan 103 Yogyakarta dan tempat lainnya
JADWAL PELAKSANAAN
NO HARI/TGL MATERI FAS/PEMATERI TEMPAT
1 Sabtu, 5 Mei 2009 Orientasi Sejarah kefasilitatoran
Ria/David KHADahlan 103 YK
2 Sabtu, 12 Mei 2009 Peran FasilitatorDasar-dasar kefasilitatoran
Cahya /Bachtiar KHADahlan 103 YK n
3 Sabtu, 21 Mei 2009 Ice breaker dan macam-macam Games
Seni Memfasilitasi Cahya /Ria Alun-alun Selata
4 Sabtu, 29 Mei 2009 Bagaimana menjadi inspirasi
David /Sharing bersama komunitas KHADahlan 103 YK
5 Sabtu, 6 Juni 2009 Praktek fasilitasi (training) Evaluasi dan terjun ke lapangan sebebas-bebasnyaRia Eka/Muntaha Taman Pintar
KONSEP TINDAK LANJUT
Masing masing peserta mempunyai kewajiban mempraktekkan ilmunya
Melaksanakan Peran Fasilitator
Mengikuti training refresh bagi alumni sekolah fasilitator angkatan 1
Berguna bagi masyarakat dan lingkungannya
PENUTUP
Besar harapan kami,semoga ini menunjukkan ikhtiar yang jernih untuk mengukir prestasi yang gemilang.suatu hari nanti. Siapa menanam pasti akan mengetam.inilah keyakinan yang kami pegang. Semoga sukses!!hidup rakyat